Rabu, 18 Juni 2014

Stereotipe Visioner Leadership









Stereotipe Visioner Leadership


Stereotipe Visioner Leadership, menjadikan motivasi  saudara sebagai agent of change and development secara akuntabel dengan harapan ransformational leadership dalam Proses Belajar dan Mengajar baik ilmu maupun seni menjadikan saudara “SMART Leadership”.

1.  Jelaskan makna konsep tersebut di atas !

Kepemimpinan Visioner adalah suatu konsep yang dapat diuraikan terperinci dan dipahami melalui literatur dan teori. Namun arti yang lebih besar dari kepemimpinan adalah tindakan nyata, cara bekerja, dan serangkaian peristiwa. Pada bagian ini, kepemimpinan visioner dapat dilihat kerangka pergerakan, perubahan, dan waktu. Jelasnya, tindakan kepemimpinan visioner berbeda dari talking atau analyzing hal tersebut, media yang dipergunakan di sini akan menjadi sesuatu yang penting untuk ditulis. Hal ini menjadi penting bagi para pembaca bahwa memadukan apa yang terjadi dalam kenyataan dengan teori haruslah menjadi keharusan, karena kepemimpinan visioner tidak dinilai dari sudut pendekatan teoretis atau ideologi semata.
Makna konsep pemimpin yang visoner adalah: Para pemimpin harus dapat menjadi teladan (panutan) melalui tingkah laku dan etikanya, serta keterlibatannya pada perencanaan, komunikasi yang dijalankan, pengarahan, membangun kepemimpinan masa depan, evaluasi kinerja suatu organisasi dan apresiasi terhadap karyawan. dapat menetapkan arah dan menciptakan upaya yang fokus kepada pelanggan, nilai organisasi yang jelas dan nyata, serta memiliki harapan yang tinggi. Sebagai teladan, pemimpin harus bisa memacu terciptanya etika, nilai dan harapan sekaligus membangun kepemimpinan, komitmen dan program-program untuk seluruh organisasi. Arah kepemimpinan, nilai dan harapan harus seimbang dan sesuai dengan keinginan dari semua. Seorang pemimpin harus memastikan terciptanya: strategi, sistem dan metode untuk meraih kinerja yang unggul, mendorong inovasi dan membangun pengetahuan dan kemampuan organisasi yang dipimpinnya. 

2.  Faktor-2 apa saja yang mendukung ?

Harper (2001) menyatakan bahwa kepemimpinan menghadapi suatu era perubahan pesat atau“accelerating” perubahan. Karenanya, waktu merupakan faktor penting untuk menjadikan seorang pemimpin visioner. Guna menghadapi perubahan pesat ini dengan baik, pemimpin harus memiliki serangkaian kompetensi yang pokok seperti kemampuan antisipasi, kecepatan,agility dan persepsi.
a.       Komitmen tinggi terhadap organisasi akan memiliki sikap yang profesional dan menjunjung tinggi
nilai-nilai yang telah disepakati dalam organisasi.
b.      Membangun komitmen pegawai sangat
terkait dengan bagaimana komitmen organisasi kepada anggota organisasi. Organisasi
memberikan ”pelayanan” apa kepada anggota organisasi.

3.  Faktor apa saja yang menghambat ?

Ada delapan kesalahan yang sering dilakukan yang menyebabkan perusahaan mengalami kegagalan dalam melakukan perubahan besar yang diharapkan. Hal-hal tersebut menurut John P. Kotter (1996) dalam bukunya : "Leading Change" adalah :

1. Membiarkan rasa puas diri yang berlebihan.
2. Gagal membentuk tim pengarah perubahan yang kuat.
3. Menganggap remeh kekuatan suatu visi.
4. Visi tidak dikomunikasikan dengan baik.
5. Membiarkan rintangan yang menghadang pencapaian visi.
6. Gagal mendapatkan kemenangan jangka pendek.
7. Terlalu cepat menyatakan kemenangan akhir.
8. Gagal membakukan perubahan ke dalam budaya perusahaan.


4.  Serta bagaimana pemecahannya ?

Burt Nanus (1992), mengungkapkan ada empat peran yang harus dimainkan oleh pemimpin visioner dalam melaksanakan kepemimpinannya, yaitu:
1.        Peran penentu arah (direction setter). Peran ini merupakan peran di mana seorang pemimpin menyajikan suatu visi, meyakinkan gambaran atau target untuk suatu organisasi, guna diraih pada masa depan, dan melibatkan orang-orang dari “get-go.” Hal ini bagi para ahli dalam studi dan praktek kepemimpinan merupakan esensi dari kepemimpinan. Sebagai penentu arah, seorang pemimpin menyampaikan visi, mengkomunikasikannya, memotivasi pekerja dan rekan, serta meyakinkan orang bahwa apa yang dilakukan merupakan hal yang benar, dan mendukung partisipasi pada seluruh tingkat dan pada seluruh tahap usaha menuju masa depan.
2.        Agen perubahan(agent of change). Agen perubahan merupakan peran penting kedua dari seorang pemimpin visioner. Dalam konteks perubahan, lingkungan eksternal adalah pusat. Ekonomi, sosial, teknologi, dan perubahan politis terjadi secara terus-menerus, beberapa berlangsung secara dramatis dan yang lainnya berlangsung dengan perlahan. Tentu saja, kebutuhan pelanggan dan pilihan berubah sebagaimana halnya perubahan keinginan parastakeholders. Para pemimpin yang efektif harus secara konstan menyesuaikan terhadap perubahan ini dan berpikir ke depan tentang perubahan potensial dan yang dapat dirubah. Hal ini menjamin bahwa pemimpin disediakan untuk seluruh situasi atau peristiwa-peristiwa yang dapat mengancam kesuksesan organisasi saat ini, dan yang paling penting masa depan. Akhirnya, fleksibilitas dan resiko yang dihitung pengambilan adalah juga penting lingkungan yang berubah.
3.        Juru bicara (spokesperson). Memperoleh “pesan” ke luar, dan juga berbicara, boleh dikatakan merupakan suatu bagian penting dari memimpikan masa depan suatu organisasi. Seorang pemimpin efektif adalah juga seseorang yang mengetahui dan menghargai segala bentuk komunikasi tersedia, guna menjelaskan dan membangun dukungan untuk suatu visi masa depan. Pemimpin, sebagai juru bicara untuk visi, harus mengkomunikasikan suatu pesan yang mengikat semua orang agar melibatkan diri dan menyentuh visi organisasi-secara internal dan secara eksternal. Visi yang disampaikan harus “bermanfaat, menarik, dan menumbulkan kegairahan tentang masa depan organisasi.”
4.        Pelatih(coach). Pemimpin visioner yang efektif harus menjadi pelatih yang baik. Dengan ini berarti bahwa seorang pemimpin harus menggunakan kerjasama kelompok untuk mencapai visi yang dinyatakan. Seorang pemimpin mengoptimalkan kemampuan seluruh “pemain” untuk bekerja sama, mengkoordinir aktivitas atau usaha mereka, ke arah “pencapaian kemenangan,” atau menuju pencapaian suatu visi organisasi. Pemimpin, sebagai pelatih, menjaga pekerja untuk memusatkan pada realisasi visi dengan pengarahan, memberi harapan, dan membangun kepercayaan di antara pemain yang penting bagi organisasi dan visinya untuk masa depan. Dalam beberapa kasus, hal tersebut dapat dibantah bahwa pemimpin sebagai pelatih, lebih tepat untuk ditunjuk sebagai “player-coach.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar